Semua Tertinggal di Starban

Ini hal baru bagiku. Sungguh sangat baru. Berjalan menyusuri jalan yang tidak terlalu sempit di tengah pusat kota Medan. Kupikir daerah tempat kostku adalah tempat paling terpencil untuk ukuran kota besar ini. Rakit, ada di sana, jadi transportasi utama penyeberangan. Tak ada pilihan lain kalau memang ingin sampai. Ongkosnya pun bisa dibayar dengan mengumpulkan lima keping uang seratusan. Mungkin kesannya kejam tapi itu kenyataan. Entah mungkin karena terbiasa kulihat orang-orang sekitar merasa itu biasa-biasa saja. Sementara tim kami yang dipimpin kak Caroline kesannya lebih kampungan. Tapi wajarlah, bertemu dengan suasana baru ekspresinya pun jadi suka berlebihan, apalagikan masih remaja jadi bisa dibilang sedang puber ditambah lagi darah siantar man masih melekat sangat pekat. Aku lebih memilih diam, dengan begitu mungkin tastenya akan lebih terasa. Penyeberangan dengan rakit terasa singkat, tapi jujur saat melangkah ke darat ada rasa pusing yang amat terasa kencang. Syukur masih bisa mengontrol keseimbangan tubuh agar tidak terjerembab. Apa karena aku darah rendah ya, itulah pikirku. Kucoba tanya temanku katanya dia gak merasakan apa yang kurasa. Berarti letak kesalahan ada pada tubuhku yang terlalu sensitif dengan hal-hal baru. Tapi sangat kunikmati.

Jam empat kami sampai, disambut anak-anak yang belum mandi dengan antusias. Kedekatan yang disatukan oleh kasih, aku terharu. Terima kasih aku bisa menyaksikan ini dan membawanya pulang sebagai pelajaran yang berarti. Saat acaranya dimulai semua anak memasang aksi. Aduh, semangatnya bernyanyi itu loh benar-benar ngegemasin. Tempat ini benar-benar mampu menyedot semua cinta dalam diri, semua tertinggal disana bahkan hati. Panggung bonekanya mendapat apresiasi. Harap-harap benar menjadi berkat. Kejadiannya sama dengan di Siantar Desember lalu. Apresiasi terbaik datang dari orang tua, persentasinya lebih tinggi sedikit. Disini pun begitu. Sudah lama kurindukan tempat ini melalui deskripsi cerita-ceritanya kak Carol.

Matahari sudah sembunyi seutuhnya ketika kami beranjak pulang. Di tengah perjalanan ada pesan yang masuk di ponsel kak Carol dan tentu itu sudah masuk beberapa jam tadi cuma baru sempat dibaca barusan. Kudengar namanya Mama Kevin Starban. Bukan pengirimnya yang buat aku kaget tapi isinya. “Tan, yang duduk di depan itu bukan Kristen.” Ada syukur yang tak terukur, pekerjaan Tuhan luar biasa. Sepanjang jalan aku bersyukur. Ini kali pertama kualami.

Senin di minggu terakhir bulan ini akan jadi Senin yang paling berharga dan tak terlupakan. Banyak kenangan yang tersisa walau belum semua kurasakan, mulai dari hujan yang membuat jalan licin hingga gelap yang hanya ditemani kunang-kunang. Aku memang mengharapkan tidak ada hujan, tapi entah kenapa waktu pulang tadi saat gelap kubayangkan ada hujan, wah sangat menakutkanlah. Padahal itu hanya bayangan. Salutlah buat kak Carol dan kak Lidya yang harus menjalaninya setiap minggu. Roh Kuduslah yang selalu memberi kekuatan dan semangat baru.