Melaju ke Lumbanjulu

Hari pertama di bulan Juli, iya itu Minggu. Lumbanjulu tempat yang akan dituju. Aku tak tahu persis itu letaknya di mana, tapi seingatku aku sering melewatinya kalau akan berlibur ke rumah oppung di Balige. Entahlah, perjalanan kali ini benar-benar membuat aku deg-degan, maklumlah akan ada penampilan dadakan. Memang sudah latihan tapi tak cukup menenangkan. Benar aku deg-degan tapi sama sekali tek tertekan. Aku yakin kuasa doa akan mengalirkan urapan. Itulah yang membuat hati mulai tenang. Ada rasa yang berbeda.

Pesan singkat yang kuterima dari kak Caroline aku akan memerankan “mama” dalam acara panggung boneka. Soal peran-peranan aku memang sudah terbiasa matakuliahnya pun dapat nilai “A”. Lebih lagi selalu mendapat acungan jempol kalau ada pementasan. Tak perlu heran karena teman-teman masih ada yang lebih hebat. Tapi entah kenapa saat kubaca aku langsung ingin berdoa. Sanggupkah? Ini bukan sekedar ujian yang sudah dilatih mati-matian siang malam untuk mata kuliah pementasan. Perjuangan memperebutkan nilai tak sebanding dengan apa yang akan diperankan. Ini pelayanan, benar-benar butuh urapan. Bukan sekedar penampilan, bukan manusia yang menilai tapi Tuhan. Bukan mencari pujian tapi harus benar-benar mempermuliakan Tuhan, memenangkan jiwa agar surga penuh. Perang batin berkecamuk sampai akhirnya Tuhan berbisik aku harus melakukan karena pasti akan Dia mampukan.

Perjalanan menyita waktu lebih kurang dua jam, Lumbanjulu kami datang. Sebenarnya belum telat kalau diukur dari jam perjanjian tapi bukan itu parameternya. Kenyataan anak-anak sudah pada berdatangan. Jadi mau tak mau kami harus dikategorikan dalam rombongan yang terlambat. Tak mengapalah soalnya tadi hujan di tengah jalan jadi kecepatan harus diturunkan. Memang semua ada hikmahnya, saat memasang panggung rasanya kecepatan berbeda. Apa karena waktu mendesak aku tak tahu, yang pasti pergerakan kami lebih cepat. Roh Kudus bekerja kata iman dan perasaan. Aku tersenyum seakan bilang terima kasih sama Tuhan karena sudah mengirim bala bantuan. Tak ada kata kebetulan, inilah rencana Tuhan. Keterlambatan yang menunjukkan Tuhan turut bekerja.

Nyanyi-nyanyian mulai dikumandangkan. Anak-anak paling senang kalau pakai gerakan. Rasanya memang lebih mengasyikkan. Itulah dunia anak. Nyanyian-permainan, permainan-nyanyian begitulah selalu bergantian. Tak seorang pun yang melewatkan, semua bersukacita. Rasa deg-deganku mulai hilang perlahan, tapi belum seutuhnya, itu wajar batinku. Aku tak henti berdoa. Panggung boneka sebagi inti KKRnya karena menyampaikan Firman, mengenalkan Yesus sebagai Juruselamat. Tepat, urapan mengalir, aku bisa merasakan karena kaki dan bibir sama sekali tak gemetar walau tak bisa dipungkiri gugup masih memeluk di sudut hati. Inilah nilai lebih panggung boneka mampu membuat mata melotot dan mulut menganga, coba tadi penyampaian Firmannya dengan metode ceramah, entah sudah akan berapa kali menyuarakan “tepuk diam” dalam waktu lima menit saja. Aku bisa meyaksikan karena berada di depan. Anak-anak, remaja, dan tak ketinggalan orang tua rame-rame menyaksikan dan ekspresinya menikmati. Dalam hati berkata biarlah Tuhan dimuliakan. Lega rasanya semua sudah berlalu. Satu hal yang kuperoleh kalau Tuhan turut berkarya semua pasti berjaya. Puji Tuhan.

Takut akan sampai terlalu malam kami memutuskan langsung berangkat setelah menikmati teh hangat ditemani roti coklat. Sebenarnya dipaksa untuk makan malam tapi itu pasti akan merepotkan, lebih baik ditolak dengan ucapan terima kasih. Maklumlah, rombongan kami terlalu banyak. Kami benar-benar dilayani dengan hangat.

Kalau kali ini diberi kesempatan melaju ke Lumbanjulu, minggu depan, bulan depan, atau tahun depanakan kemana? Biarlah Tuhan yang menentukan, yang pasti kami hanya pelayan siap diperintahkan ke mana saja.